Icon
Mitra Industri SMK Negeri Jenawi
SMK Negeri Jenawi

Informasi Kegiatan Guru

Outbound Sosiokultural SMK Negeri Jenawi di TAHURA Karanganyar Berlangsung Meriah dan Penuh Makna
26 May 2026 Harsono
Outbound Sosiokultural SMK Negeri Jenawi di TAHURA Karanganyar...
Karanganyar, Senin 25 Mei 2026 — Seluruh siswa, guru, dan karyawan SMK Negeri Jenawi mengikuti kegiatan Outbound Sosiokultural yang dilaksanakan di kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I, Karanganyar. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat, kebersamaan, dan antusiasme dari seluruh peserta. Outbound sosiokultural ini menjadi salah satu kegiatan sekolah yang bertujuan untuk mempererat hubungan antarsiswa, guru, dan karyawan sekaligus menanamkan nilai kerja sama, kepemimpinan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial. Dengan suasana alam yang sejuk dan asri, seluruh peserta tampak menikmati setiap rangkaian kegiatan yang telah disiapkan. Berbagai permainan edukatif dan kerja tim dilaksanakan selama kegiatan berlangsung. Para siswa diajak untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama dalam kelompok, serta meningkatkan rasa tanggung jawab dan solidaritas. Tidak hanya siswa, bapak ibu guru dan karyawan juga ikut terlibat aktif sehingga suasana semakin akrab dan menyenangkan. Kegiatan ini dipandu langsung oleh panitia dan pendamping dari sekolah dengan tetap menjaga ketertiban dan keamanan peserta. Melalui outbound sosiokultural ini, diharapkan seluruh warga sekolah dapat memiliki semangat baru dalam belajar, bekerja, dan membangun karakter yang positif. Kepala SMK Negeri Jenawi menyampaikan bahwa kegiatan di luar kelas seperti ini sangat penting untuk membangun kekompakan dan meningkatkan hubungan harmonis antarwarga sekolah. Selain sebagai sarana pembelajaran, kegiatan ini juga menjadi momen penyegaran dan kebersamaan bagi seluruh keluarga besar SMK Negeri Jenawi. Dengan terselenggaranya kegiatan Outbound Sosiokultural di TAHURA Karanganyar ini, SMK Negeri Jenawi kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aktif, kreatif, dan penuh semangat kebersamaan.
Permainan Merayap dalam Sociocultural Capacity Building SMK Negeri Jenawi Bangun Kekompakan dan Kepercayaan
26 May 2026 FERONIKA FEBRI LARASATI, S.Pd.
Permainan Merayap dalam Sociocultural Capacity Building SMK Negeri...
Kegiatan Sociocultural Capacity Building yang diselenggarakan oleh SMK Negeri Jenawi pada tanggal 25 Mei 2026 di TAHURA KGPAA Mangkunagoro I menghadirkan berbagai aktivitas menarik dan edukatif. Salah satu permainan yang paling menarik perhatian peserta adalah permainan merayap. Permainan ini diikuti dengan penuh semangat oleh seluruh siswa kelas X, siswa kelas XI TKR 1 dan 2, XI TKJ 1, 2, dan 3, XI TJAT, serta guru dan karyawan SMK Negeri Jenawi. Permainan merayap dilakukan secara berkelompok dengan menekankan kerja sama, kekompakan, dan komunikasi antaranggota tim. Dalam permainan ini, setiap kelompok harus bergerak bersama melewati rintangan dengan posisi merayap sambil menjaga koordinasi agar seluruh anggota dapat mencapai garis akhir dengan baik. Tantangan tersebut melatih peserta untuk saling membantu, menjaga ritme, dan tidak mementingkan diri sendiri. Selain menumbuhkan semangat kebersamaan, permainan merayap juga memiliki aspek penilaian yang menjadi perhatian utama dalam pelaksanaannya. Adapun hal-hal yang dinilai meliputi teknik gerakan, ketahanan, dan kecepatan setiap kelompok dalam menyelesaikan tantangan. Teknik gerakan yang tepat menunjukkan kedisiplinan dan kemampuan mengikuti arahan, sedangkan ketahanan dan kecepatan menjadi gambaran kekompakan serta semangat juang peserta selama mengikuti permainan. Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Tawa, semangat, dan sorak dukungan terdengar dari setiap kelompok yang berusaha menyelesaikan tantangan dengan maksimal. Tidak sedikit peserta yang harus berjuang menghadapi medan dan menjaga kekompakan tim, namun hal tersebut justru menjadi pengalaman berharga yang mempererat hubungan antaranggota kelompok. Melalui permainan merayap, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga belajar pentingnya rasa percaya, kedisiplinan, dan solidaritas. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya SMK Negeri Jenawi dalam membangun karakter positif serta menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis dan bebas dari perundungan. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan seluruh warga SMK Negeri Jenawi dapat terus menjaga kebersamaan dan membawa semangat positif ke dalam proses pembelajaran sehari-hari.
sosiokultural capacity building 2026 “tanpa bullying kita wujudkan kerjasama dan menumbuhkan disiplin serta menanamkan karakter
26 May 2026 Misbahus Surur
sosiokultural capacity building 2026 “tanpa bullying kita wujudkan...
SMKN Jenawi Gelar Sosiokultural Capacity Building 2026: Wujudkan Kerja Sama Tanpa Bullying dan Perkuat Karakter Guru SMKN Jenawi kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang positif dan berkarakter melalui kegiatan Sosiokultural Capacity Building 2026 yang mengusung tema “Tanpa Bullying Kita Wujudkan Kerjasama dan Menumbuhkan Disiplin serta Menanamkan Karakter.” Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2026 di kawasan Tahura Ngargoyoso, Karanganyar, dengan melibatkan seluruh guru SMKN Jenawi. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan antar guru sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menciptakan budaya sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying. Dalam suasana alam yang sejuk dan penuh keakraban, para peserta mengikuti berbagai aktivitas yang menumbuhkan kerja sama, disiplin, komunikasi, serta penguatan nilai-nilai karakter positif dalam lingkungan pendidikan. Melalui kegiatan capacity building ini, para guru diajak untuk memahami pentingnya membangun hubungan sosial yang sehat dan saling mendukung, baik antar sesama pendidik maupun kepada peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum refleksi bersama agar seluruh warga sekolah dapat terus menanamkan nilai empati, toleransi, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Antusiasme dan semangat kebersamaan terlihat selama kegiatan berlangsung. Berbagai sesi interaktif dan kerja kelompok mampu menciptakan suasana yang hangat sekaligus inspiratif. Tidak hanya menjadi ajang penyegaran, kegiatan ini juga memperkuat solidaritas serta komitmen seluruh guru dalam mewujudkan SMKN Jenawi sebagai sekolah yang berkarakter, disiplin, dan menjunjung tinggi budaya anti bullying. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan seluruh guru SMKN Jenawi semakin solid dalam menjalankan perannya sebagai pendidik dan teladan bagi siswa. Semangat kebersamaan, disiplin, dan kepedulian yang ditanamkan melalui kegiatan ini diharapkan dapat terus tumbuh dan menjadi budaya positif di lingkungan sekolah demi terciptanya generasi yang unggul, berkarakter, dan saling menghargai.
Sociocultural Capacity Building SMK Negeri Jenawi: Perkuat Kebersamaan dan Karakter Positif Siswa
26 May 2026 FERONIKA FEBRI LARASATI, S.Pd.
Sociocultural Capacity Building SMK Negeri Jenawi: Perkuat Kebersamaan...
SMK Negeri Jenawi kembali mengadakan kegiatan penguatan karakter melalui program Sociocultural Capacity Building yang dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2026 di TAHURA KGPAA Mangkunagoro I. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X, siswa kelas XI TKR 1 dan 2, XI TKJ 1, 2, dan 3, XI TJAT, serta seluruh guru dan karyawan SMK Negeri Jenawi. Suasana penuh semangat dan kebersamaan begitu terasa sejak kegiatan dimulai hingga selesai. Kegiatan diawali dengan pembukaan resmi oleh Kepala SMK Negeri Jenawi, Andi Saputro, S.Kom. yang memberikan motivasi kepada seluruh peserta tentang pentingnya membangun karakter positif, disiplin, serta budaya sekolah yang bebas dari perundungan. Setelah pembukaan, seluruh peserta mengikuti senam bersama untuk membangun semangat dan kekompakan sebelum memasuki sesi inti kegiatan. Pada sesi utama, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti berbagai permainan edukatif dan kolaboratif, seperti menyeberangi pulau, jalan rintang, merapat, lompat zig zag, dan pesan berantai. Setiap permainan dirancang untuk melatih kerja sama, komunikasi, konsentrasi, serta rasa saling percaya antaranggota kelompok. Tidak hanya siswa, guru dan karyawan juga turut aktif berpartisipasi sehingga tercipta suasana akrab dan menyenangkan. Melalui kegiatan Sociocultural Capacity Building ini, SMK Negeri Jenawi berharap dapat membangun kedekatan emosional antarwarga sekolah sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter yang positif. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, harmonis, dan mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi bersama yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berbagi pengalaman dan pelajaran yang diperoleh selama kegiatan berlangsung. Dengan semangat kebersamaan yang terbangun, diharapkan seluruh warga SMK Negeri Jenawi dapat terus menjaga kekompakan, saling menghargai, dan menciptakan budaya sekolah yang lebih baik di masa mendatang.
Bukan Sekadar Menyeberang Pulau: Cara Seru Upgrade Socio-Cultural Capacity Lewat Game.
26 May 2026 wilis setyarini
Bukan Sekadar Menyeberang Pulau: Cara Seru Upgrade Socio-Cultural...
Pernahkah Anda terjebak dalam sebuah permainan di mana kelompok Anda diminta untuk menyeberangi "pulau" menggunakan media terbatas—seperti potongan kardus, karpet, atau tali—tanpa boleh menyentuh lantai yang diibaratkan sebagai laut penuh hiu? Bagi sebagian orang, game Menyeberangi Pulau (Island Crossing) mungkin terasa seperti simulasi outbound biasa untuk memicu tawa dan keseruan. Namun, jika kita melihatnya dengan lensa yang lebih dalam, permainan ini adalah laboratorium mini yang sempurna untuk menguji dan meningkatkan satu keterampilan krusial di era modern: Socio-Cultural Capacity (Kapasitas Sosiokultural). Di dunia yang makin terkoneksi ini, kapasitas sosiokultural bukan lagi sekadar "aksesori" CV, melainkan kemampuan bertahan hidup. Lalu, bagaimana sebuah permainan sederhana bisa meng-upgrade kemampuan ini? Mari kita bedah. 1. Di Atas "Kardus" yang Sama: Ruang Bertemunya Keberagaman Dalam game Menyeberangi Pulau, setiap anggota tim dipaksa untuk berdiri sangat dekat di atas media yang sempit. Batas fisik yang intim ini meruntuhkan dinding kecanggungan. Secara sosiokultural, momen ini menyimulasikan bagaimana manusia dipaksa hidup berdampingan dalam ruang publik atau lingkungan kerja yang heterogen. Anda tidak bisa memilih dengan siapa Anda berdiri. Di atas "pulau" kecil itu, latar belakang suku, agama, jabatan, hingga status sosial melebur menjadi satu identitas baru: satu tim yang ingin selamat. Permainan ini mengajarkan kita untuk menerima kehadiran orang lain secara utuh dan mengesampingkan prasangka demi mencapai tujuan bersama. 2. Navigasi Komunikasi: Menyelaraskan Banyak Kepala Bayangkan situasinya: waktu terus berjalan, media penyeberangan terbatas, dan semua orang panik. Si A ingin melompat, si B ingin menggeser kardus perlahan, sementara si C terlalu takut untuk bergerak. Di sinilah ujian komunikasi sosiokultural dimulai. Permainan ini membuktikan bahwa: Mendengar sama pentingnya dengan berbicara: Anda tidak bisa menyeberang jika ego masing-masing anggota lebih besar daripada pulau tempat berdiri. Adaptasi bahasa tubuh: Karena situasi yang bising atau terbatas, tim sering kali harus menciptakan kode-kode non-verbal baru agar strategi berjalan lancar. Kemampuan menyelaraskan berbagai gaya komunikasi dari individu yang berbeda adalah inti dari kompetensi sosiokultural. 3. Empati dan Inklusi dalam Praktik Nyata Skenario paling menarik dalam game ini biasanya terjadi saat ada anggota tim yang memiliki keterbatasan fisik (misalnya bertubuh besar, memakai rok, atau kurang lincah). Apakah tim akan meninggalkan mereka demi kecepatan? Ataukah tim akan menyesuaikan ritme demi keselamatan bersama? Insight Penting: Kapasitas sosiokultural yang tinggi diuji ketika kelompok mampu bersikap inklusif. Tim yang sukses bukanlah tim yang paling cepat menyeberang secara individual, melainkan tim yang berhasil membawa seluruh anggotanya sampai ke seberang dengan selamat. Ini adalah simulasi empati sosial yang nyata. 4. Manajemen Konflik di Tengah "Laut" Ketika ada anggota yang tidak sengaja menginjak lantai (jatuh ke laut) dan membuat tim harus mengulang dari awal, apa respons kelompok? Menghakimi? Menyalahkan? Atau merangkul dan mengevaluasi strategi? Dinamika ini mencerminkan bagaimana kita mengelola konflik dalam masyarakat atau organisasi. Game ini melatih pelakunya untuk memiliki cultural agility—kemampuan untuk tetap tenang, toleran terhadap kesalahan sesama, dan fokus pada solusi kolektif alih-alih mencari kambing hitam. Kesimpulan: Belajar dari Pengalaman (Experiential Learning) Mengapa harus lewat game? Mengapa tidak membaca buku sosiologi saja? Jawabannya adalah pengalaman langsung. Teori tentang toleransi, kolaborasi, dan empati sosiokultural sangat mudah dihafalkan di luar kepala. Namun, kapasitas sosiokultural sejati baru terbentuk ketika diuji oleh tekanan, keterbatasan, dan interaksi nyata.
Semangat Kebersamaan dan Karakter Positif Warnai Sosiokultural Capacity Building 2026 SMKN Jenawi
26 May 2026 REZZY MEGA PANGASTIKA
Semangat Kebersamaan dan Karakter Positif Warnai Sosiokultural Capacity...
SMKN Jenawi kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun karakter positif dan budaya sekolah yang harmonis melalui kegiatan **Sosiokultural Capacity Building 2026** yang dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2026 di Taman Hutan Raya KGPAA Mangkunegoro I. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru, karyawan, serta siswa-siswi SMKN Jenawi dengan penuh semangat dan antusiasme. Kegiatan capacity building ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antarwarga sekolah sekaligus menanamkan nilai-nilai sosial yang positif. Dengan mengusung semangat *“Tanpa Bullying Kita Wujudkan Kerjasama dan Menumbuhkan Disiplin serta Menanamkan Karakter”*, seluruh peserta diajak untuk membangun rasa saling menghargai, peduli, dan bekerja sama dalam berbagai aktivitas yang telah disiapkan. Suasana sejuk dan asri di kawasan Taman Hutan Raya KGPAA Mangkunegoro I menambah semangat peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan. Melalui berbagai aktivitas kebersamaan, peserta belajar pentingnya komunikasi, solidaritas, disiplin, serta kekompakan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara guru, karyawan, dan siswa agar tercipta budaya sekolah yang lebih positif dan humanis. Tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi seluruh peserta dalam membangun karakter dan meningkatkan kepedulian sosial. Semangat anti-bullying yang digaungkan menjadi pengingat bahwa lingkungan sekolah yang sehat harus dibangun dengan sikap saling menghormati dan mendukung satu sama lain. Melalui kegiatan Sosiokultural Capacity Building 2026 ini, SMKN Jenawi berharap seluruh warga sekolah semakin solid, disiplin, dan memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan di masa depan. Semoga semangat kebersamaan, kepedulian, dan kerja sama yang telah terbangun dapat terus tumbuh dan menjadi budaya positif di lingkungan SMKN Jenawi.
Sosiokultural Capacity Building 2026 SMKN Jenawi: Wujudkan Kerja Sama, Disiplin, dan Karakter Tanpa Bullying
26 May 2026 Mardhina Hayuningtyas
Sosiokultural Capacity Building 2026 SMKN Jenawi: Wujudkan Kerja...
SMK Negeri Jenawi kembali mengadakan kegiatan pengembangan karakter melalui program Sosiokultural Capacity Building 2026 yang dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026 di kawasan Tahura (Taman Hutan Raya) Tambak, Dusun Sukuh, Mlinggur, Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Kegiatan ini mengusung tema “Tanpa Bullying Kita Wujudkan Kerjasama dan Menumbuhkan Disiplin Serta Menanamkan Karakter” sebagai bentuk komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif, aman, dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa serta guru dan karyawan SMKN Jenawi dengan penuh semangat dan antusiasme. Suasana alam Tahura yang sejuk dan asri memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi seluruh peserta. Tidak hanya menjadi sarana rekreasi edukatif, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mempererat hubungan antarwarga sekolah melalui berbagai aktivitas kebersamaan dan kerja sama tim. Dalam pelaksanaannya, peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan pengembangan soft skills, kepemimpinan, serta pembentukan mental dan karakter. Kegiatan dipadukan dengan metode edukasi dan praktik lapangan seperti outbound, permainan kelompok, dan tantangan kerja sama yang mampu melatih komunikasi, rasa tanggung jawab, kedisiplinan, serta kekompakan antar peserta. Seluruh aktivitas dirancang agar siswa lebih adaptif, kolaboratif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan. Melalui kegiatan ini, SMKN Jenawi berharap peserta didik tidak hanya unggul dalam kemampuan akademik dan keterampilan kejuruan, tetapi juga memiliki karakter yang baik, sikap saling menghargai, dan semangat kebersamaan tanpa bullying. Nilai-nilai positif seperti disiplin, kerja sama, kepedulian, dan rasa percaya diri diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dengan terselenggaranya Sosiokultural Capacity Building 2026, SMKN Jenawi terus berkomitmen membentuk generasi muda yang berkarakter, tangguh, dan siap bersaing di dunia industri maupun kehidupan sosial. Semoga kegiatan ini menjadi pengalaman berharga yang mampu menumbuhkan semangat positif, memperkuat solidaritas, serta menginspirasi seluruh siswa untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
“Satu Kardus, Seribu Strategi” — Keseruan, Kekompakan, dan Pelajaran Hidup di Capacity Building SMK Negeri Jenawi
26 May 2026 Adhi Satria Laksana
“Satu Kardus, Seribu Strategi” — Keseruan, Kekompakan, dan...
Ngargoyoso, Karanganyar — Gelak tawa, teriakan semangat, dan diskusi penuh strategi terdengar silih berganti di kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I saat kegiatan Capacity Building yang diselenggarakan oleh SMK Negeri Jenawi berlangsung. Di antara berbagai pos permainan yang disiapkan panitia, terdapat satu tantangan yang paling menyita perhatian peserta, yakni pos “Melampaui Pulau”. Pada pos ini, setiap kelompok yang terdiri dari sekitar 20 hingga 25 siswa hanya diberikan sepuluh lembar kardus yang diibaratkan sebagai “pulau” untuk membantu seluruh anggota menyeberang dari satu titik menuju titik tujuan lainnya. Sekilas permainan tersebut terlihat sederhana, namun di balik kesederhanaannya tersimpan tantangan besar yang menuntut kerja sama, strategi, dan rasa saling percaya. Permainan semakin menantang dengan adanya berbagai aturan yang harus dipatuhi peserta. Hanya diperbolehkan ada satu pulau yang ditempati bersama oleh laki-laki dan perempuan, sementara pulau lainnya hanya boleh dihuni sesama laki-laki atau sesama perempuan. Tidak boleh ada pulau yang kosong tanpa penghuni, dan jarak antar kardus juga tidak boleh terlalu lebar agar peserta tidak melakukan “lompat kelinci” demi mempercepat perpindahan. Sejak permainan dimulai, suasana langsung berubah menjadi penuh ketegangan sekaligus keseruan. Setiap kelompok tampak sibuk menyusun strategi terbaik. Ada yang berdiskusi dengan tenang, ada pula yang berteriak memberi arahan agar seluruh anggota tetap bergerak bersama. Sesekali terdengar sorakan ketika sebuah kelompok hampir kehilangan keseimbangan atau ketika strategi yang dirancang ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Namun justru dari tantangan itulah para peserta belajar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar memenangkan permainan. Mereka belajar bahwa tujuan tidak akan mudah dicapai jika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Dalam permainan tersebut, satu langkah yang salah dapat menyulitkan seluruh kelompok. Sebaliknya, ketika semua anggota saling mendengar, saling membantu, dan berjalan dengan irama yang sama, rintangan yang terlihat sulit perlahan dapat dilalui bersama. Pos “Melampaui Pulau” bukan hanya menjadi ajang adu kecepatan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang arti kebersamaan. Dari selembar kardus sederhana, para siswa belajar bahwa kehidupan membutuhkan strategi, komunikasi, kesabaran, dan kepedulian terhadap orang lain. Tidak semua perjalanan dapat dilalui sendirian, dan tidak semua kemenangan terasa berarti jika harus meninggalkan teman di belakang. Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan nyata, manusia akan selalu dihadapkan pada berbagai “pulau” tantangan. Ada saat di mana seseorang harus mengalah demi kepentingan bersama, ada waktu ketika harus memperlambat langkah agar tidak ada yang tertinggal, dan ada momen ketika keberhasilan hanya bisa diraih melalui kerja sama yang tulus. Melalui kegiatan Capacity Building ini, SMK Negeri Jenawi berharap seluruh siswa tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu membangun rasa empati, komunikasi yang baik, dan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Capacity Building SMK Negeri Jenawi Perkuat Kebersamaan Guru di Tahura Karanganyar
26 May 2026 Agung Bayuadji, S.Pd.
Capacity Building SMK Negeri Jenawi Perkuat Kebersamaan Guru...
Karanganyar — Dalam upaya mempererat kebersamaan dan meningkatkan semangat kerja sama, seluruh guru SMK Negeri Jenawi mengikuti kegiatan Capacity Building yang dilaksanakan pada hari Senin, 25 Mei 2026 di kawasan wisata alam Tahura KGPAA Mangkunagoro, Kabupaten Karanganyar. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat dan suasana kekeluargaan. Dengan latar alam yang sejuk dan asri, para guru mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang bertujuan membangun kekompakan, komunikasi, serta memperkuat solidaritas antarpendidik di lingkungan sekolah. Acara diawali dengan pembukaan dan pengarahan mengenai pentingnya kerja sama, disiplin, serta menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan positif. Selanjutnya para peserta mengikuti berbagai kegiatan kebersamaan dan permainan tim yang dirancang untuk melatih koordinasi, kepemimpinan, dan rasa saling percaya. Melalui kegiatan Capacity Building ini, para guru diharapkan dapat meningkatkan semangat kolaborasi dalam menjalankan tugas pendidikan serta mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan inspiratif bagi peserta didik. Selain menjadi sarana penyegaran di tengah aktivitas sekolah, kegiatan ini juga menjadi momentum mempererat hubungan kekeluargaan antar guru SMK Negeri Jenawi. Suasana penuh keakraban dan kebahagiaan tampak selama kegiatan berlangsung. Pihak sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin guna membangun sumber daya manusia yang solid, profesional, dan memiliki semangat kebersamaan demi kemajuan SMK Negeri Jenawi.
CAPACITY BUILDING
26 May 2026 Gunarin
CAPACITY BUILDING
Kegiatan "merayap" dalam konteks capacity building atau outbound di Tahura (Taman Hutan Raya) KGPAA Mangkunagoro I, Ngargoyoso, Karanganyar biasanya merujuk pada salah satu wahana low ropes atau simulasi fisik. Secara filosofis dan praktis, permainan ini bukan cuma bikin baju kotor, tapi punya esensi mendalam untuk pengembangan diri dan tim. Berikut adalah bedah makna dan manfaat aktivitas merayap saat capacity building di Tahura Ngargoyoso: 1. Esensi & Filosofi Aktivitas Merendahkan Diri (Kerendahan Hati): Secara fisik, Anda harus tiarap dan sejajar dengan tanah. Dalam organisasi, ini menyimbolkan bahwa untuk mencapai tujuan bersama, ego pribadi harus ditekan. Ketahanan (Resilience): Menghadapi rintangan berupa tali netting atau rintangan alam di atas kepala memaksa Anda untuk terus bergerak maju meski ruang gerak terbatas. Fokus pada Tujuan: Saat merayap, pandangan Anda terbatas. Anda dipaksa fokus pada satu langkah di depan mata hingga mencapai garis finish. 2. Manfaat untuk Capacity Building Tim Empati & Solidaritas: Biasanya, jalur merayap dibuat berlapis. Anda akan melihat rekan kerja Anda berjuang di sebelah Anda, yang secara psikologis membangun rasa senasib sepenanggungan. Komunikasi di Bawah Tekanan: Seringkali dalam simulasi, Anda harus memberi aba-aba atau menyemangati rekan yang kelelahan di dalam jalur rayapan. Pengembangan Fisik & Mental: Jalur merayap di Tahura memanfaatkan kontur alam pegunungan yang sejuk namun menantang, melatih motorik kasar, kekuatan otot inti (core), dan mental pantang menyerah. Mengapa Tahura Ngargoyoso Sangat Mendukung? Tahura Mangkunagoro I terletak di lereng Gunung Lawu. Melakukan aktivitas capacity building di sini memberikan keuntungan tersendiri: Udara Dingin & Bersih: Mengurangi stres kerja dengan cepat (refreshing). Medan Alami: Tanah, rumput, dan pepohonan pinus membuat simulasi merayap terasa lebih menyatu dengan alam dibanding di lapangan beton atau buatan. Tips Tambahan: Jika Anda adalah panitia atau peserta yang akan menghadapi sesi ini, pastikan memakai baju olahraga yang nyaman (saran: lengan panjang), membawa baju ganti, dan siap-siap untuk menertawakan keseruan bersama tim setelah baju penuh dengan tanah!