Isi Berita / Informasi
SMKN Jenawi – Suasana ruang kelas X SMK Negeri Jenawi pada Jumat, 22 Mei 2026 terasa berbeda. Bukan sekadar mendengarkan ceramah guru, para siswa justru sibuk berdiskusi, mencari data, dan merancang solusi kreatif. Mereka sedang mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) yang berfokus pada materi melestarikan peninggalan Hindu di wilayah sekitar, seperti Candi Ceto, Candi Sukuh, dan Candi Kethek.
Pembelajaran kali ini mengusung masalah nyata yang sangat relevan: maraknya tindakan vandalisme terhadap bangunan candi. Alih-alih hanya membahas teori, guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis, menganalisis akar masalah, serta menemukan solusi yang tepat. Kegiatan ini dirancang untuk melatih kemampuan pemecahan masalah secara sistematis dan logis, sekaligus mendorong keaktifan serta kemandirian belajar para peserta didik.
Dalam prosesnya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka didorong untuk mencari informasi dari berbagai sumber, berdiskusi dengan penuh semangat, dan menyampaikan pendapat dengan saling menghargai. Hasilnya? Sejumlah solusi kreatif lahir dari tangan mereka, mulai dari membuat rancangan poster digital yang mengajak masyarakat menjaga candi, artikel edukatif tentang pentingnya pelestarian, hingga vlog yang mengangkat kisah dan nilai sejarah di balik candi-candi tersebut. Pendekatan ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih bermakna, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kreativitas siswa dalam menemukan berbagai alternatif solusi.
Yang menarik, pembelajaran dengan PBL ini berhasil menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Siswa tidak hanya belajar tentang peninggalan Hindu, tetapi juga sadar bahwa mereka memiliki peran aktif dalam menjaganya. Kerja sama tim, komunikasi yang efektif, dan kemampuan berpikir inovatif pun terasa semakin terasah dalam diri setiap siswa. Pendekatan ini membuktikan bahwa pembelajaran tidak harus selalu berpusat pada guru, tetapi dapat menjadi pengalaman bermakna yang membekas dan membentuk karakter siswa untuk peduli terhadap warisan budaya bangsa.
Yuk kita lestarikan wariasan budaya bangsa!
Pembelajaran kali ini mengusung masalah nyata yang sangat relevan: maraknya tindakan vandalisme terhadap bangunan candi. Alih-alih hanya membahas teori, guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis, menganalisis akar masalah, serta menemukan solusi yang tepat. Kegiatan ini dirancang untuk melatih kemampuan pemecahan masalah secara sistematis dan logis, sekaligus mendorong keaktifan serta kemandirian belajar para peserta didik.
Dalam prosesnya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka didorong untuk mencari informasi dari berbagai sumber, berdiskusi dengan penuh semangat, dan menyampaikan pendapat dengan saling menghargai. Hasilnya? Sejumlah solusi kreatif lahir dari tangan mereka, mulai dari membuat rancangan poster digital yang mengajak masyarakat menjaga candi, artikel edukatif tentang pentingnya pelestarian, hingga vlog yang mengangkat kisah dan nilai sejarah di balik candi-candi tersebut. Pendekatan ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih bermakna, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kreativitas siswa dalam menemukan berbagai alternatif solusi.
Yang menarik, pembelajaran dengan PBL ini berhasil menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Siswa tidak hanya belajar tentang peninggalan Hindu, tetapi juga sadar bahwa mereka memiliki peran aktif dalam menjaganya. Kerja sama tim, komunikasi yang efektif, dan kemampuan berpikir inovatif pun terasa semakin terasah dalam diri setiap siswa. Pendekatan ini membuktikan bahwa pembelajaran tidak harus selalu berpusat pada guru, tetapi dapat menjadi pengalaman bermakna yang membekas dan membentuk karakter siswa untuk peduli terhadap warisan budaya bangsa.
Yuk kita lestarikan wariasan budaya bangsa!